Pernah Dicueki Polisi Saat Lapor Kehilangan, Kapolres Lamongan Buka Kisah Pilu Enam Tahun Lalu

Kapolres Lamongan AKBP Arif Fazlurrahman menyampaikan kisah pengalamannya saat pernah dicueki ketika melapor kehilangan sepeda di akun instagram miliknya. (Tajukkalimantan.com/Ilham)

LAMONGAN, Tajukkalimantan.com - Tidak banyak perwira polisi yang berani membuka pengalaman pribadinya secara jujur, terlebih pengalaman pahit yang menyisakan luka.

Namun Kapolres Lamongan, AKBP Arif Fazlurrahman, memilih berbagi kisah yang pernah menghantam batinnya. Ia dicueki saat melapor kehilangan sepeda di kantor polisi, enam tahun silam. (10/2/2026)

Kisah itu disampaikannya melalui konten pribadi di Media Sosial akun Instagram miliknya @arif_Fazlurrahman.

Ia bercerita, kala itu datang ke kantor polisi sebagai warga biasa. Ia sengaja tidak memperkenalkan diri sebagai anggota Polri, ingin merasakan langsung bagaimana masyarakat dilayani ketika mengajukan laporan. Namun, sambutan yang diterimanya justru dingin.

“Saya masih berdiri, disuruh duduk saja belum,” kenangnya.

Situasi makin menusuk ketika petugas piket melontarkan pertanyaan singkat namun menyakitkan, “Emang berapa harganya?” Bagi Arif, kalimat tersebut bukan sekadar pertanyaan, melainkan gambaran hilangnya empati dalam pelayanan publik, seolah nilai sebuah laporan ditakar dari nominal rupiah semata.

Emosinya pun memuncak. Arif akhirnya mengungkapkan identitasnya sebagai polisi. Sikap petugas berubah seketika. Namun, di balik itu, tersisa kekecewaan mendalam karena laporan warga sebelumnya dianggap remeh.

“Jangan meremehkan masalah orang. Ada barang yang nilainya kecil secara rupiah, tapi sangat berarti bagi pemiliknya,” tegas Arif.

Pengalaman tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan kepemimpinannya. Ia bertekad memastikan tidak ada lagi masyarakat yang merasa diabaikan saat mencari keadilan.

Baginya, Polri harus hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai sahabat yang memahami beban dan penderitaan warga.

Latar belakang religius Arif, yang pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Assalam Solo, tercermin dalam gaya kepemimpinannya. Disiplin, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan menjadi fondasi dalam menjalankan tugas.

Ia meyakini, kepercayaan publik tumbuh dari pelayanan yang tulus dan berkeadilan.

Kini, sebagai Kapolres Lamongan, Arif membawa pesan sederhana namun kuat, setiap laporan warga adalah penting. Tidak peduli besar atau kecil kerugiannya, polisi wajib melayani dengan hati.

Kisah sepeda hilang itu mungkin hanya satu fragmen dalam perjalanan hidupnya. Namun Arif memilih menjadikannya pelajaran berharga, bukan sekadar kenangan pahit.

Dengan membagikan cerita ini, ia berharap seluruh jajaran kepolisian semakin peka, lebih manusiawi, dan benar-benar hadir di tengah masyarakat.

“Semoga sekarang sudah tidak ada lagi polisi yang mengabaikan laporan warga,” tutupnya penuh harap.

Tajukkalimantan.com/Ilham
Editor: Elpian


Lebih baru Lebih lama