Antisipasi Kemarau Ekstrem, DKP3 Balangan Siapkan Pompa Air dan Perkuat Infrastruktur Pertanian

Kantor Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Balangan. (Tajukkalimantan.com/Fendy)


   PARINGIN, TajukKalimantan.com – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Balangan menyiapkan langkah antisipasi menghadapi kemarau ekstrem yang berpotensi mengganggu ketersediaan air bagi lahan pertanian, salah satunya melalui penguatan sistem irigasi perpompaan.

Kepala DKP3 Kabupaten Balangan, Rizkianor Fauzi, mengatakan kondisi kemarau menjadi perhatian karena sejumlah wilayah mulai mengalami keterbatasan sumber air. Salah satu kawasan yang diwaspadai ialah Kecamatan Lampihong yang memiliki areal persawahan berupa rawa lebak.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu diantisipasi jika kemarau ekstrem berlangsung hingga puncaknya pada September. Kekeringan dikhawatirkan semakin parah, terutama di wilayah persawahan Lampihong.


“Kalau memang terjadi sampai puncaknya di September itu yang kita khawatirkan kekeringan luar biasa yang ada di Kecamatan Lampihong. Nah, rencana kita ada berkoordinasi dengan BPBD, kemudian dengan kawan-kawan di Dinas Lingkungan Hidup maupun di aparat desa,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, DKP3 telah mengembangkan sistem irigasi perpompaan untuk membantu memenuhi kebutuhan air lahan pertanian. Saat ini, dua unit pompa telah dibangun di wilayah Riwa, Kecamatan Batumandi, dan Bungin dengan memanfaatkan tenaga surya.

Rizkianor menjelaskan, pompa tersebut dapat membantu mengairi lahan pertanian selama masih tersedia sumber air. Satu unit pompa diperkirakan mampu mengairi lahan lebih dari 25 hektare.

“Kalau air pompa ini sebenarnya hektare sawah yang bisa terairi dengan adanya air pompa, tapi dengan catatan ada sumber air. Itu hampir 25 hektare lebih yang bisa terairi dengan satu pompa,” jelasnya.

Untuk tahun 2027, DKP3 juga telah mengusulkan penambahan enam titik irigasi perpompaan, yang direncanakan tersebar di Kecamatan Awayan sebanyak dua titik, Halong satu titik, Paringin dua titik dan Paringin Selatan satu titik.

Selain memastikan ketersediaan air, DKP3 juga memperkuat akses menuju lahan pertanian melalui pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT). Infrastruktur tersebut diharapkan mendukung mobilitas petani sekaligus mempermudah pengangkutan hasil pertanian.

Rizkianor mengatakan program satu desa satu JUT juga telah dianggarkan melalui pemerintah desa. Sementara DKP3 memiliki anggaran tersendiri untuk pembangunan dan rehabilitasi JUT berdasarkan hasil verifikasi teknis di lapangan.

{nextPage}

“Kalau dari kami sendiri ada anggaran untuk pembangunan dan rehabilitasi JUT. Jadi masing-masing usulan itu kita verifikasi ke lapangan, apakah memang memenuhi persyaratan teknis atau tidak,” katanya.

Pada tahun 2026, DKP3 menargetkan pembangunan lebih dari 50 JUT dengan anggaran sekitar Rp70 miliar, termasuk untuk kebutuhan perencanaan dan konsultan. 


Pembangunan tersebut tidak hanya menyasar kawasan pertanian yang mudah dijangkau, tetapi juga diarahkan ke sejumlah wilayah pedalaman dan pegunungan, termasuk Kecamatan Halong.

Menurut Rizkianor, penguatan irigasi dan akses JUT diharapkan dapat membantu petani tetap beraktivitas di tengah kondisi cuaca ekstrem. Ketersediaan air menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan lahan pertanian, sementara JUT mendukung mobilitas petani dan distribusi hasil panen.

Ia menambahkan, DKP3 akan terus melakukan koordinasi dan memantau perkembangan kondisi cuaca dalam beberapa waktu ke depan. Langkah tersebut dilakukan agar apabila kondisi kekeringan semakin parah, penanganan dapat segera dilakukan bersama pihak terkait.

“Karena ini termasuk bencana. Kalau sampai terjadi, mau tidak mau kita berkoordinasi dengan kawan-kawan BPBD,” pungkasnya.

(Tajukkalimantan.com/Fendy)
Lebih baru Lebih lama