![]() |
| Kolase foto - Wuling Aira EV (kiri) dan BYD Atto 2 (kanan) yang dipamerkan di Gakindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, di ICE BSD. (ANTARA) |
JAKARTA, Tajukkalimantan.com - BYD mencatat penurunan pendapatan dan laba bersih pada semester pertama 2026, meski pengiriman kendaraan ke pasar luar negeri mengalami pertumbuhan signifikan.
Pada periode Januari hingga Juni 2026, BYD membukukan pendapatan operasional sekitar 344,815 miliar yuan, turun 7,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham juga turun 20,54 persen menjadi sekitar 12,32 miliar yuan.
BYD menyebut penurunan laba terutama dipengaruhi fluktuasi nilai tukar dan kerugian valuta asing, sementara profitabilitas bisnis inti perusahaan dinilai tetap stabil.
Pada kuartal kedua 2026, laba bersih BYD justru meningkat 30 persen secara tahunan dengan margin kotor mencapai 18,9 persen.
Penjualan kendaraan energi baru atau NEV BYD sepanjang semester pertama mencapai sekitar 1,8085 juta unit, turun 15,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Presiden BYD Wang Chuanfu mengaitkan penurunan penjualan dengan kendala rantai pasokan, terutama keterbatasan kapasitas produksi Blade Battery generasi kedua.
Menurut Wang, peningkatan kapasitas produksi baterai masih berlangsung sehingga pasokannya belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan perusahaan.
Di tengah pelemahan pasar domestik, ekspansi global BYD justru menunjukkan perkembangan positif dengan peningkatan ekspor kendaraan.
Data Asosiasi Produsen Mobil China mencatat BYD mengekspor sekitar 792.000 kendaraan pada semester pertama 2026, meningkat 67,8 persen secara tahunan.
{nextPage}
Ekspor tersebut kini menyumbang hampir 44 persen dari total penjualan BYD dan membuat perusahaan optimistis dapat melampaui target ekspor tahunan sebesar 1,5 juta unit.
Merek premium BYD seperti Denza, Fang Cheng Bao, dan YangWang juga tumbuh dengan penjualan gabungan sekitar 228.000 unit atau meningkat 61 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan BYD mulai mengandalkan pasar global untuk menopang kinerja perusahaan, sementara persaingan di pasar domestik China semakin ketat dengan Geely Auto yang mencatat penjualan domestik sekitar 950.000 unit pada semester pertama.
Sumber: Antara Otomotif
%20dan%20BYD%20Atto%202%20(kanan)%20yang%20dipamerkan%20di%20Gakindo%20Indonesia%20International%20Auto%20Show%20(GIIAS)%202026,%20di%20ICE%20BSD.%20(ANTARA).jpg)