![]() |
| Arsip foto - Kendaraan militer dan tank Israel ditempatkan di dekat perbatasan Lebanon di Israel utara pada 14 Maret 2026. (ANTARA) |
BEIRUT, Tajukkalimantan.com - Pemerintah Lebanon menegaskan tidak akan menandatangani perjanjian apa pun dengan Israel tanpa adanya penarikan penuh pasukan dari wilayahnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Perdana Menteri Nawaf Salam sebagaimana dilaporkan The Washington Post pada Kamis.
Ia menegaskan bahwa Lebanon tidak dapat menerima keberadaan zona penyangga yang membuat warga tidak bisa kembali serta menghambat pembangunan kembali wilayah yang hancur.
Sementara itu, Presiden Joseph Aoun menyatakan bahwa keterbukaan Lebanon untuk bernegosiasi bukan berarti menyerah, melainkan untuk mencari solusi permanen atas konflik yang berkepanjangan.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengungkapkan rencana menghancurkan kota Bint Jbeil yang disebut sebagai basis kuat Hizbullah di wilayah selatan Lebanon.
Upaya diplomasi masih berlangsung, dengan Amerika Serikat memfasilitasi pembicaraan lanjutan antara Lebanon dan Israel di Washington pada tingkat duta besar.
Presiden AS Donald Trump juga mengumumkan bahwa kedua pihak telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari yang dimulai sejak 17 April.
{nextPage}
Meski demikian, situasi di lapangan dilaporkan masih memanas, dengan tuduhan bahwa militer Israel terus melanggar kesepakatan melalui serangan udara, artileri, dan penggunaan pesawat tanpa awak.
Kondisi ini menunjukkan bahwa proses menuju perdamaian masih menghadapi tantangan serius di tengah ketegangan yang belum mereda.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
.jpg)