![]() |
| Bendera Arab Saudi berkibar di depan konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 6 November 2018. (Anadolu Agency) |
RIYADH, Tajukkalimantan.com - Arab Saudi mengecam serangkaian serangan Houthi yang disebut menargetkan fasilitas sipil, ekonomi, serta situs suci di wilayah kerajaan pada Senin (5/10).
Kementerian Luar Negeri Saudi menyatakan serangan tersebut menyasar sejumlah kota, termasuk Mekah dan Madinah, serta Riyadh, Abha, Khamis Mushait, Jazan, Najran, Taif, dan Yanbu.
Saudi juga menuding Houthi menyerang kapal-kapalnya di wilayah selatan Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, sementara kelompok asal Yaman tersebut membantah telah menargetkan situs-situs suci.
Menurut Saudi, sejumlah serangan terhadap wilayah kerajaan turut menyebabkan korban luka di kalangan warga sipil serta menimbulkan kerusakan pada fasilitas material dan energi.
Pemerintah Saudi menegaskan haknya untuk mempertahankan wilayah, sumber daya, kedaulatan, serta keselamatan warga dan penduduk sesuai dengan hukum internasional.
Riyadh juga menyatakan tetap memberikan dukungan politik dan militer kepada Dewan Kepemimpinan Presiden serta pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Saudi menilai Houthi telah memilih eskalasi militer setelah sebelumnya Riyadh mengklaim berupaya mendukung penyelesaian politik yang komprehensif dan berkelanjutan di Yaman.
Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan dimulainya operasi militer yang diumumkan Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman Rashad Al-Alimi dengan nama “Fajar Yaman” atau “Dawn of Yemen”.
Operasi tersebut ditujukan untuk merebut kembali wilayah dan institusi negara yang berada di bawah kendali Houthi, termasuk upaya menuju Ibu Kota Sanaa.
{nextPage}
Dalam perkembangan terbaru, pasukan pemerintah Yaman mengklaim telah menguasai sejumlah posisi strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb serta merebut kembali wilayah Mokha dengan dukungan udara koalisi pimpinan Saudi.
Koalisi yang dipimpin Saudi dilaporkan mengerahkan sekitar 100 jet tempur untuk memberikan dukungan udara kepada pasukan Yaman dalam operasi tersebut, sementara klaim mengenai perkembangan di medan perang belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Konflik antara pemerintah Yaman dan Houthi kembali meningkat setelah kelompok tersebut menguasai Sanaa dan sejumlah wilayah sejak 2014, sedangkan Saudi telah memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman sejak 2015.
Sumber: Anadolu
.jpg)