![]() |
| Ilustrasi. Kemdiktisaintek berencana mengkaji ulang untuk menyesuaikan prodi dengan kebutuhan industri, bahkan akan menutup prodi yang tidak relevan. (iStock) |
JAKARTA, Tajukkalimantan.com - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berencana mengevaluasi program studi di perguruan tinggi agar lebih sesuai dengan kebutuhan industri.
Sekjen Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukonco, menyebut langkah ini dilakukan karena banyak lulusan yang tidak terserap di dunia kerja.
Pemerintah akan melakukan penyesuaian bahkan membuka kemungkinan menutup prodi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan masa depan.
Ia mencontohkan prodi kependidikan mengalami kelebihan lulusan, dengan sekitar 490 ribu lulusan per tahun, sementara kebutuhan hanya sekitar 20 ribu.
Selain itu, prodi ilmu sosial disebut mendominasi hingga 60 persen dari total program studi di perguruan tinggi.
Badri juga mengingatkan potensi kelebihan tenaga kerja di sektor lain seperti dokter jika pembukaan prodi tidak dikendalikan.
{nextPage}
Menurutnya, selama ini perguruan tinggi cenderung membuka prodi berdasarkan minat pasar, bukan kebutuhan jangka panjang pembangunan.
Kondisi tersebut dinilai berisiko menimbulkan ketidaksesuaian antara lulusan dengan kebutuhan industri dan ekonomi nasional.
Karena itu, pemerintah mendorong kebijakan bersama dengan perguruan tinggi untuk menata ulang prodi demi meningkatkan relevansi pendidikan tinggi.
Sumber: CNN Indonesia
.jpg)