Viral Usai Protes Penilaian LCC MPR, Josepha Ditawari Beasiswa ke China oleh Ketua Komisi II DPR

Ketua Komisi II DPR RI, M. Rifqinizamy Karsayuda, saat berbincang melalui sambungan telepon dengan Josepha Alexandra usai polemik penilaian LCC Empat Pilar MPR RI viral di media sosial. (Dok. tangkapan layar Instagram)

JAKARTA, Tajukkalimantan.com - Polemik penilaian dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang viral di media sosial terus menjadi perhatian publik. Di tengah ramainya perbincangan tersebut, Ketua Komisi II DPR RI sekaligus anggota MPR RI, M. Rifqinizamy Karsayuda, memberikan perhatian khusus kepada Josepha Alexandra, siswi SMAN 1 Pontianak yang menjadi sorotan usai mempertanyakan keputusan dewan juri saat lomba berlangsung.

Rifqinizamy bahkan menghubungi langsung Josepha melalui sambungan telepon untuk menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang terjadi dalam final LCC Empat Pilar MPR RI di Pontianak, Kalimantan Barat.

Dalam percakapan tersebut, Rifqinizamy mengapresiasi keberanian Josepha yang dinilai tetap tenang dan berani mempertahankan kebenaran di tengah situasi yang menjadi perhatian publik nasional.

“Saya minta maaf ya Josepha, kalau ada kesalahan dalam proses Lomba Cerdas Cermat kemarin tingkat final di Pontianak,” ujar Rifqinizamy dalam video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya.

Tak hanya menyampaikan permintaan maaf, politikus yang juga alumni SMAN 1 Pontianak itu turut menawarkan beasiswa kuliah gratis ke Tiongkok kepada Josepha setelah lulus SMA nanti.

“Kalau Josepha berkenan, Abang mau kasih beasiswa kuliah gratis ke China,” ucapnya.

Rifqinizamy juga meminta Josepha mendiskusikan tawaran tersebut bersama orang tua dan guru sekolahnya.

Polemik LCC Empat Pilar MPR RI sendiri bermula saat final lomba tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang digelar pada Sabtu (9/5/2026) menjadi viral di media sosial. Dalam video yang beredar luas, terlihat tim dari SMAN 1 Pontianak mendapat nilai minus lima ketika menjawab pertanyaan terkait mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Namun tak lama berselang, tim lain dari SMAN 1 Sambas memberikan jawaban dengan substansi yang dinilai serupa dan justru mendapatkan nilai penuh dari dewan juri.

Perbedaan penilaian tersebut langsung memicu protes dari peserta dan penonton. Josepha Alexandra yang menjadi perwakilan tim SMAN 1 Pontianak kemudian mempertanyakan keputusan juri secara langsung di lokasi lomba.

Video momen tersebut kemudian ramai dibagikan di berbagai platform media sosial hingga menuai kritik dari warganet. Banyak netizen menilai terjadi ketidakadilan dalam proses penilaian lomba.

Sorotan publik semakin besar setelah tayangan lomba tersebut tersebar luas di media sosial dan berbagai kanal pemberitaan nasional. Sejumlah pihak pun meminta MPR RI melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan lomba.

Menanggapi polemik tersebut, Sekretariat Jenderal MPR RI akhirnya melakukan penelusuran internal dan menyampaikan permintaan maaf kepada publik.

MPR RI juga menonaktifkan dewan juri dan pembawa acara atau MC dalam kegiatan LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan lomba.

Selain itu, sejumlah anggota DPR dan MPR RI turut memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis peserta lomba, terutama Josepha yang menjadi pusat perhatian publik setelah videonya viral.

Hal ini pun memicu diskusi luas di media sosial terkait pentingnya objektivitas, sportivitas, dan profesionalisme dalam kegiatan pendidikan maupun perlombaan yang melibatkan pelajar.

Tajukkalimantan.com/Ilham
Editor: Elpian

Lebih baru Lebih lama