![]() |
| Seorang warga memeriksa kerusakan bangunan tempat tinggal yang disebabkan oleh serangan udara Israel di Ansariyeh. (ANTARA) |
BEIRUT, Tajukkalimantan.com - Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, menegaskan bahwa tidak ada gencatan senjata yang bersifat sepihak yang dapat bertahan di Lebanon.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Al-Manar pada Senin, Fadlallah menyatakan Hizbullah tidak akan menerima kondisi yang mengharuskan hanya satu pihak mematuhi kesepakatan penghentian konflik.
Menurutnya, posisi Lebanon saat ini mengutamakan gencatan senjata menyeluruh yang mencakup wilayah darat, udara, dan laut.
Ia menilai langkah tersebut penting untuk mendorong penarikan pasukan Israel sekaligus memungkinkan warga yang mengungsi kembali ke desa-desa mereka.
Fadlallah mengatakan sikap tersebut telah disampaikan kepada berbagai pihak dan harus disertai komitmen yang jelas dari Israel.
Selain itu, ia juga menuntut penghentian penghancuran rumah-rumah warga di wilayah Lebanon selatan sebagai bagian dari pelaksanaan kesepakatan.
Hizbullah, lanjutnya, akan mematuhi setiap perjanjian apabila Israel menunjukkan komitmen yang sama dalam menjalankan isi kesepakatan tersebut.
Fadlallah juga menyebut tekanan dari Iran dan ancaman penghentian perundingan turut memengaruhi perkembangan situasi terbaru.
{nextPage}
Pernyataan itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan bahwa Israel dan Hizbullah telah sepakat menghentikan serangan melalui komunikasi yang dilakukan dengan bantuan pihak perantara.
Trump mengaku telah menerima jaminan dari kedua belah pihak bahwa seluruh aksi tembak-menembak akan dihentikan.
Meski demikian, ketegangan masih berlanjut di lapangan karena Israel disebut terus melakukan serangan ke Lebanon setelah gencatan senjata yang berlaku sejak 17 April.
Kesepakatan tersebut sebelumnya telah diperpanjang selama 45 hari setelah perundingan tidak langsung yang dimediasi oleh Amerika Serikat belum menghasilkan penyelesaian permanen.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 3.400 orang dilaporkan meninggal dunia akibat serangan yang terjadi sejak 2 Maret.
Sumber: Anadolu
.jpg)