Karhutla Aceh Barat Jadi Alarm Penting untuk Perkuat Upaya Pencegahan

Kebakaran lahan melanda kawasan perkebunan di Desa Gunong Pulo, Kecamatan Arongan Lambalek, Kabupaten Aceh Barat. (HO-BPBD Aceh Barat)


    MEULABOH, Tajukkalimantan.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Kabupaten Aceh Barat setelah puluhan hektare lahan terbakar dalam beberapa pekan terakhir.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat mencatat luas area yang terdampak karhutla telah mencapai sekitar 34,1 hektare sejak akhir Mei hingga pertengahan Juni 2026.

Meski sebagian besar titik api berhasil dipadamkan, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ancaman kebakaran lahan masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.

Sebaran kebakaran terjadi di lima kecamatan, yakni Bubon, Samatiga, Meureubo, Arongan Lambalek, dan Johan Pahlawan, dengan Kecamatan Bubon menjadi wilayah yang mengalami dampak paling besar.


Lokasi kebakaran yang tersebar membuat proses pemadaman lebih kompleks karena petugas harus membagi personel dan peralatan ke sejumlah titik secara bersamaan.

Kondisi cuaca kering yang berlangsung dalam waktu lama turut mempercepat penyebaran api, sementara angin kencang dan minimnya curah hujan menambah tantangan di lapangan.

Petugas juga menghadapi kendala akses menuju lokasi kebakaran yang sebagian besar berada di area terpencil dan sulit dijangkau kendaraan pemadam.

Kesulitan semakin meningkat ketika api membakar lahan gambut karena bara dapat terus menyala di bawah permukaan tanah dan berpotensi muncul kembali meski api di permukaan telah padam.

Dalam upaya penanganan, BPBD mendapat dukungan dari TNI, Polri, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), petugas pemadam kebakaran, relawan mahasiswa, serta masyarakat setempat.

{nextPage}

Bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga dikerahkan melalui operasi water bombing menggunakan helikopter dan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi lintas sektor, dukungan teknologi, serta koordinasi yang terintegrasi untuk menekan dampak yang lebih luas.

Peristiwa di Aceh Barat sekaligus menjadi pengingat bahwa pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif, karena menjaga lingkungan dari risiko kebakaran jauh lebih mudah dibandingkan memulihkan kerusakan yang telah terjadi.

Sumber: Antaranews
Lebih baru Lebih lama