Analisis Ungkap Kerusakan yang Paling Sering Dialami Mobil Listrik Bekas

Mobil listrik bekas Wuling Airev di Bursa Otomotif Mangga Dua Square, Jakarta. (ANTARA)


    JAKARTA, Tajukkalimantan.com - Analisis terhadap data klaim garansi kendaraan menunjukkan bahwa masalah yang paling sering dialami pemilik mobil listrik bekas bukan berasal dari baterai tegangan tinggi.

Data dari perusahaan penyedia garansi mobil bekas di Inggris, Warrantywise, memperlihatkan sebagian besar kerusakan pada kendaraan listrik serupa dengan mobil bermesin konvensional.

Gangguan kelistrikan umum menjadi jenis kerusakan yang paling sering dilaporkan oleh pemilik kendaraan listrik bekas.

Masalah tersebut meliputi kerusakan pada sensor maupun sistem penguncian sentral dengan biaya perbaikan yang cukup tinggi.


Selain kelistrikan, komponen suspensi seperti lengan ayun juga menjadi salah satu bagian yang paling sering mengalami kerusakan.

Bobot kendaraan listrik yang lebih berat dinilai membuat komponen suspensi lebih rentan mengalami keausan seiring penggunaan.

Masalah lain yang juga kerap muncul adalah gangguan pada baterai 12 volt yang digunakan untuk mendukung sistem kelistrikan kendaraan.

Sementara itu, pengisi daya onboard menjadi satu-satunya komponen khusus kendaraan listrik yang masuk dalam lima besar klaim garansi perbaikan.

Berbeda dengan anggapan banyak orang, baterai traksi tegangan tinggi tidak termasuk dalam daftar kerusakan yang paling sering terjadi.

{nextPage}

Menurut analisis tersebut, baterai tegangan tinggi memiliki tingkat keandalan yang cukup baik serta didukung masa garansi pabrikan yang lebih panjang dibandingkan komponen lainnya.

Meski jarang mengalami kerusakan, biaya perbaikan paket baterai tegangan tinggi dapat mencapai nilai yang sangat besar apabila terjadi gangguan.

Hasil analisis Warrantywise menggambarkan kondisi kendaraan yang tercakup dalam layanan garansi perusahaan tersebut dan tidak mewakili seluruh kendaraan listrik yang beredar di jalan.

Sumber: Antara Otomotif
Lebih baru Lebih lama